BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Syariat Islam mengajarkan bahwa
setiap manusia pasti akan mengalami kematian yang tidak pernah diketahui kapan
waktunya. Sebagai makhluk sebaik-baik ciptaan Allah SWT dan ditempatkan pada
derajat yang tinggi, maka Islam sangat menghormati orang muslim yang telah
meninggal dunia. Oleh sebab itu, menjelang menghadapi kehariban Allah SWT orang
yang telah meninggal dunia mendapatkan perhatian khusus dari muslim lainnya
yang masih hidup.
Dalam ketentuan hukum Islam jika
seorang muslim meninggal dunia maka hukumnya fardhu kifayah atas orang-orang
muslim yang masih hidup untuk menyelenggarakan 4 perkara, yaitu memandikan,
mengkafani, menshalatkan dan menguburkan orang yang telah meninggal tersebut.
Untuk lebih jelasnya 4 persoalan tersebut, pemakalah akan mencoba
menguraikan dalam penjelasan berikut ini.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa
pengertian jenazah ?
2.
Bagaimana tata cara memandikan jenazah ?
3.
Bagaimana tata cara mengkafani jenazah ?
4.
Bagaimana tata cara menshalatkan jenazah ?
5.
Bagaimana tata cara menguburkan jenazah ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian jenazah
2.
Untuk
mengatahui tata cara memandikan jenazah
3.
Untuk
mengetahui tata cara mengkafani jenazah
4.
Untuk
mengatahui tata cara menshalatkan jenazah
5.
Untuk
mengatahui tata cara menguburkan jenazah
D.
Manfaat
1.
Sebagai referensi untuk perguruan tinggi
2.
Sebagai pengetahuan baru bagi mahasiswa
3.
Sebagai pengetahuan baru bagi pembaca.
BAB II
A.
Pengertian
Jenazah
Kata jenazah diambil dari bahasa
Arab (جن ذح)
yang berarti tubuh mayat dan kata جن ذ yang berarti menutupi. Jadi,
secara umum kata jenazah memiliki arti tubuh mayat yang tertutup
B.
Memandikan
Jenazah
Setiap orang muslim yang meninggal
dunia harus dimandikan, dikafani dan dishalatkan terlebih dahulu sebelum
dikuburkan terkecuali bagi orang-orang yang mati syahid. Hukum memandikan
jenazah orang muslim menurut jumhur ulama adalah fardhu kifayah. Artinya,
kewajiban ini dibebankan kepada seluruh mukallaf di tempat itu, tetapi jika
telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh
mukallaf. Adapun dalil yang menjelaskan kewajiban memandikan jenazah
ini terdapat dalam sebuah hadist Rasulullah SAW, yakninya:
عن ا بن عبا س ا ن ا لنبي صلى ا لله عليه و سلم قا ل: فى ا لذ
ي سقط عن ر ا حلته فما ت ا غسلو ه بما ء و سد ر (رواه ا لبخرو مسلم)
Artinya: “Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi SAW telah
bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya lalu mati, “mandikanlah ia dengan
air dan daun bidara.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Adapun beberapa hal penting yang berkaitan dengan memandikan
jenazah yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Orang yang utama memandikan jenazah
a. Untuk mayat laki-laki
Orang yang utama memandikan dan mengkafani mayat laki-laki
adalah orang yang diwasiatkannya, kemudian bapak, kakek, keluarga terdekat,
muhrimnya dan istrinya.
b. Untuk mayat perempuan
Orang yang utama memandikan mayat perempuan adalah ibunya,
neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita serta suaminya.
c. Untuk mayat anak laki-laki dan anak
perempuan
Untuk mayat anak laki-laki boleh perempuan yang
memandikannya dan sebaliknya untuk mayat anak perempuan boleh laki-laki yang
memandikannya.
d. Jika seorang perempuan meninggal
sedangkan yang masih hidup semuanya hanya laki-laki dan dia tidak mempunyai
suami, atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup
hanya perempuan saja dan dia tidak mempunyai istri, maka mayat tersebut tidak
dimandikan tetapi cukup ditayamumkan oleh salah seorang dari mereka dengan
memakai lapis tangan.[3] Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
SAW, yakninya:
اذ ما تت ا لمر أ ة مع ا لر جا ل ليس معحم ا مر أ ة غير ها و ا
لر جل مع النسا ء ليس معهن ر جل غيره فأ نهما ييممان و يد فنا ن و هما بمنز لة من
لم يجد ا لما ء (رواه ه بو داود و ا لبيحقى)
Artinya: “Jika seorang perempuan meninggal di tempat
laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat
perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya maka kedua mayat itu
ditayamumkan, lalu dikuburkan, karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat
air.” (H.R Abu Daud dan Baihaqi)
2. Syarat bagi orang yang memandikan
jenazah
a. Muslim, berakal, dan baligh
b. Berniat memandikan jenazah
c. Jujur dan sholeh
d. Terpercaya, amanah, mengetahui hukum
memandikan mayat dan memandikannya sebagaimana yang diajarkan sunnah serta
mampu menutupi aib si mayat.
3. Mayat yang wajib untuk dimandikan
a. Mayat seorang muslim dan bukan kafir
b. Bukan bayi yang keguguran dan jika
lahir dalam keadaan sudah meninggal tidak dimandikan
c. Ada sebahagian tubuh mayat yang
dapat dimandikan
d. Bukan mayat yang mati syahid
4. Tatacara memandikan jenazah
Berikut beberapa cara memandiakan
jenazah orang muslim, yaitu:
a. Perlu diingat, sebelum mayat
dimandikan siapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang dibutuhkan untuk
keperluan mandinya, seperti:
1) Tempat memandikan pada ruangan yang
tertutup.
2) Air secukupnya.
3) Sabun, air kapur barus dan
wangi-wangian.
4) Sarung tangan untuk memandikan.
5) Potongan atau gulungan kain
kecil-kecil.
6) Kain basahan, handuk, dll.
b. Cara memandikan jenazah
1) Ambil kain penutup dan gantikan kain
basahan sehingga aurat utamanya tidak kelihatan.
2) Mandikan jenazah pada tempat yang
tertutup.
3) Pakailah sarung tangan dan bersihkan
jenazah dari segala kotoran.
4) Ganti sarung tangan yang baru, lalu
bersihkan seluruh badannya dan tekan perutnya perlahan-lahan.
5) Tinggikan kepala jenazah agar air
tidak mengalir kearah kepala.
6) Masukkan jari tangan yang telah
dibalut dengan kain basah ke mulut jenazah, gosok giginya dan bersihkan
hidungnya, kemudiankan wudhukan.
7) Siramkan air kesebelah kanan dahulu
kemudian kesebelah kiri tubuh jenazah.
8) Mandikan jenazah dengan air sabun
dan air mandinya yang terakhir dicampur dengan wangi-wangian.
9) Perlakukan jenazah dengan lembut
ketika membalik dan menggosok anggota tubuhnya.
10) Memandikan jenazah satu kali jika
dapat membasuh ke seluruh tubuhnya itulah yang wajib. Disunnahkan mengulanginya
beberapa kali dalam bilangan ganjil.
11) Jika keluar dari jenazah itu najis
setelah dimandikan dan mengenai badannya, wajid dibuang dan dimandikan lagi.
Jika keluar najis setelah di atas kafan tidak perlu diulangi mandinya, cukup
hanya dengan membuang najis itu saja.
12) Bagi jenazah wanita, sanggul
rambutnya harus dilepaskan dan dibiarkan menyulur kebelakang, setelah disirim
dan dibersihkan lalu dikeringkan dengan handuk dan dikepang.
13) Keringkan tubuh jenazah setelah
dimandikan dengan kain sehingga tidak membasahi kain kafannya.
14)
Selesai
mandi, sebelum dikafani berilah wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol.
C.
Mengkafani
Jenazah
Mengkafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah
dengan sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain. Hukum
mengkafani jenazah muslim dan bukan mati syahid adalah fardhu kifayah. Dalam
sebuah hadist diriwayatkan sebagai berikut:
ها جر نا سع ر سو ل ا لله صلى ا لله عليه و سلم كلتمس و جه ا
لله فو قع ا جرنا على الله فمنا من ما ت لم يأ كل من ا جر ه شأ منهم مصعب ا بن
عمير قتل يو م ا حد فلم نجد ما لكفنه ا لا بر د ة, ا ذا غطينا بها ر أ سه خر جت ر
جلا ه, و ا ذا غطينا بها ر جليه حر ج ر أ سه فأ مر نا ا لنبي صلى ا لله عليه و سلم
ا ن نغطي ر أ سه و ا ن نجعل على ر جليه من ا لا ذ خر (رواه ا لبخا ر ى)
Artinya: “Kami hijrah bersama Rasulullah SAW dengan
mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka tentulah akan kami terima pahalanya dari
Allah, karena diantara kami ada yang meninggal sebelum memperoleh hasil duniawi
sedikit pun juga. Misalnya, Mash’ab bin Umair dia tewas terbunuh diperang Uhud
dan tidak ada buat kain kafannya kecuali selembar kain burdah. Jika kepalanya
ditutup, akan terbukalah kakinya dan jika kakinya tertutup, maka tersembul
kepalanya. Maka Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi kepalanya dan menaruh rumput
izhir pada kedua kakinya.” (H.R Bukhari).
Hal-hal yang disunnahkan dalam mengkafani jenazah adalah:
1. Kain kafan yang digunakan hendaknya
kain kafan yang bagus, bersih dan menutupi seluruh tubuh mayat.
2. Kain kafan hendaknya berwarna putih.
3. Jumlah kain kafan untuk mayat
laki-laki hendaknya 3 lapis, sedangkan bagi mayat perempuan 5 lapis.
4. Sebelum kain kafan digunakan untuk
membungkus atau mengkafani jenazah, kain kafan hendaknya diberi wangi-wangian
terlebih dahulu.
5. Tidak berlebih-lebihan dalam
mengkafani jenazah.
Adapun tata cara mengkafani jenazah adalah sebagai berikut:
1. Untuk mayat laki-laki
a. Bentangkan kain kafan sehelai demi
sehelai, yang paling bawah lebih lebar dan luas serta setiap lapisan diberi
kapur barus.
b. Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup
dengan kain dan letakkan diatas kain kafan memanjang lalu ditaburi
wangi-wangian.
c. Tutuplah lubang-lubang (hidung,
telinga, mulut, kubul dan dubur) yang mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan
kapas.
d. Selimutkan kain kafan sebelah kanan
yang paling atas, kemudian ujung lembar sebelah kiri. Selanjutnya, lakukan
seperti ini selembar demi selembar dengan cara yang lembut.
e. Ikatlah dengan tali yang sudah
disiapkan sebelumnya di bawah kain kafan tiga atau lima ikatan.
f. Jika kain kafan tidak
cukup untuk menutupi seluruh badan mayat maka tutuplah bagian kepalanya dan
bagian kakinya yang terbuka boleh ditutup dengan daun kayu, rumput atau kertas.
Jika seandainya tidak ada kain kafan kecuali sekedar menutup auratnya saja,
maka tutuplah dengan apa saja yang ada.
2. Untuk mayat perempuan
Kain kafan untuk mayat perempuan
terdiri dari 5 lemabar kain putih, yang terdiri dari:
a. Lembar pertama berfungsi untuk
menutupi seluruh badan.
b. Lembar kedua berfungsi sebagai
kerudung kepala.
c. Lembar ketiga berfungsi sebagai baju
kurung.
d. Lembar keempat berfungsi untuk
menutup pinggang hingga kaki.
e. Lembar kelima berfungsi untuk
menutup pinggul dan paha.
Adapun tata cara mengkafani mayat
perempuan yaitu:
1. Susunlah kain kafan yang sudah
dipotong-potong untuk masing-masing bagian dengan tertib. Kemudian, angkatlah
jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan diatas kain kafan
sejajar, serta taburi dengan wangi-wangian atau dengan kapur barus.
2. Tutuplah lubang-lubang yang mungkin
masih mengeluarkan kotoran dengan kapas.
3. Tutupkan kain pembungkus pada kedua
pahanya.
4. Pakaikan sarung.
5. Pakaikan baju kurung.
6. Dandani rambutnya dengan tiga
dandanan, lalu julurkan kebelakang.
7. Pakaikan kerudung.
8. Membungkus dengan lembar kain
terakhir dengan cara menemukan kedua ujung kain kiri dan kanan lalu digulungkan
kedalam.
D.
Menyolatkan
Jenazah
Menurut ijma ulama hukum penyelenggaraan shalat jenazah
adalah fardhu kifayah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:
صلو ا على مو تا كم (رواه ابن ما جه)
Artinya: “Shalatilah orang yang meninggal dunia
diantara kamu”
Orang yang paling utama untuk melaksanakan shalat jenazah
yaitu :
1. Orang yang diwasiatkan si mayat
dengan syarat tidak fasik atau tidak ahli bid’ah.
2. Ulama atau pemimpin terkemuka ditempat
itu.
3. Orang tua si mayat dan seterusnya ke
atas.
4. Anak-anak si mayat dan seterusnya ke
bawah.
5. Keluarga terdekat.
6. Kaum muslimim seluruhnya.
Rukun shalat jenazah ialah:
1. Berniat menshalatkan jenazah.
2. Takbir empat kali.
3. Berdiri bagi yang kuasa.
Adapun tata cara melakukan shalat
jenazah adalah sebagai berikut:
1. Niat shalat jenazah
Niat shalat jenazah dilakukan dalam
hati serta ikhlas karena Allah SWT. Sebelum shalat jenazah dilakukan maka
kepada imam dan seluruh makmum hendaknya berwudhu dan menutup aurat. Untuk
menyalatkan mayat laki-laki imam berdiri sejajar dengan kepala si mayat,
sedangkan untuk mayat perempuan, imam berdiri di tengah-tengah sejajar pusat si
mayat.
Lafal niat shalat jenazah:
a. Untuk mayat laki-laki
ا صلى على هذ اا لميت ار بع تكبير ا ت فر ض كفا ية مأ مو ما/ ا ما ما لله تعا لى
Artinya :“Sengaja aku berniat shalat atas mayat laki-laki
empat takbir fardhu kifayah menjadi makmun/imam karena Allah ta’ala”
b. Untuk mayat perempuan
ا صلى على هذ اا لميتة ار بع تكبير ا ت فر ض كفا ية مأ مو ما/ ا ما ما لله تعا لى
Artinya :“Sengaja aku berniat shalat atas mayat perempuan
empat takbir fardhu kifayah menjadi makmun/imam karena Allah ta’ala”
2. Takbir 4 kali
a. Takbir pertama dimulai dengan
mengangkat tangan dan membaca Al-Fatihah.
Artinya:
1) Dengan menyebut nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang,
2) Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam,
3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
4) Yang menguasai di hari Pembalasan,
5) Hanya Engkaulah yang kami sembah,
dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan,
6) Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7) (yaitu) jalan orang-orang yang Telah
Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan
(pula jalan) mereka yang sesat.
b. Takbir kedua dan membaca shalawat
ا للهم صل على محمد و على ا ل محمد كما صليت على ا بر ا هيم و
على ا ل ا براهيم و با رك على محمد و على ا ل محمد كما با ر كت على ا بر ا هيم و
على ا ل ا بر هيم فى ا لعا لمين ا نك حميد مجيد.
Artinya: “Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana engkau telah memberikan kesejahteraan
kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkatilah Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya
Engkau Maha terpuji lagi bijaksana”.
c. Takbir ketiga dan membaca do’a untuk si mayat
ا للحم ا غفر له (ها) و ا ر حمه (ها) و عا فه(ها) و ا عف عنه
(ها) و ا كر م نز له (ها) ووسع مد خله (ها) و ا غسله (ها) بما ء و ثلج و بر د و
نقه (ها) من ا لخطا يا كم ينقى ا لثو ب من ا لد نس و ا بد له (ها) دا را خيرا من
دا ر ه (ها) و ا هلا خيرا من ا هله (ها) و ادخله (ها) ا لجنة و ا عنذ ه
(ها) من عذا ب ا لقبر و عذا ب ا لنا ر
.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia,
maafkanlah dia dan sentosakanlah dia, muliakan tempatnya, lapangkanlah
kuburnya, sucikanlah dia dengan air embun dan es, sucikanlah dia dari
kesalahannya, sebagaimana sucinya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumahnya
dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan gantikan keluarganya dengan
keluarga yang lebih baik, masukkan ia kedalam syurga, dan jauhkan ia dari siksa
kubur dan siksa neraka.”
d. Takbir keempat lalu diam sejenak dan
membaca do’a
ا للحم لا تحر منا ا جر ه (ها) ولا تفتنا بعد ه (ها) و ا غفر
لنا و له (ها)
Artinya: “ Ya Allah janganlah Engkau
tahan untuk kami pahalanya dan janganlah engkau tinggalkan fitnah untuk kami
setelah kepergiannya”
E.
Menguburkan
Jenazah
Disunnahkan membawa jenazah dengan usungan jenazah yang di
panggul di atas pundak dari keempat sudut usungan.
Disunnahkan menyegerakan mengusungnya ke pemakaman tanpa
harus tergesa-gesa. Bagi para pengiring, boleh berjalan di depan jenazah, di
belakangnya, di samping kanan atau kirinya. Semua cara ada tuntunannya dalam
sunnah Nabi.
Para pengiring tidak dibenarkan untuk duduk sebelum jenazah
diletakkan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah melarangnya.
Disunnahkan
mendalamkan lubang kubur, agar jasad si mayit terjaga dari jangkauan binatang
buas, dan agar baunya tidak merebak keluar.
Lubang
kubur yang dilengkapi liang lahad lebih baik daripada syaq. Dalam masalah ini
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Liang
lahad itu adalah bagi kita (kaum muslimin), sedangkan syaq bagi selain kita
(non muslim).” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam
“Ahkamul Janaaiz” hal. 145)
Lahad adalah
liang (membentuk huruf U memanjang) yang dibuat khusus di dasar kubur pada
bagian arah kiblat untuk meletakkan jenazah di dalamnya.
Syaq adalah
liang yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengahnya (membentuk huruf
U memanjang).
·
Jenazah
siap untuk dikubur. Allahul musta’an.
·
Jenazah
diangkat di atas tangan untuk diletakkan di dalam kubur.
·
Jenazah
dimasukkan ke dalam kubur. Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang lahat dari
arah kaki kuburan lalu diturunkan ke dalam liang kubur secara perlahan. Jika
tidak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah kiblat.
·
Petugas
yang memasukkan jenazah ke lubang kubur hendaklah mengucapkan: “BISMILLAHI
WA ‘ALA MILLATI RASULILLAHI (Dengan menyebut Asma Allah dan berjalan
di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam).” ketika menurunkan
jenazah ke lubang kubur. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wassalam.
Disunnahkan membaringkan jenazah dengan bertumpu pada sisi kanan jasadnya (dalam posisi miring) dan menghadap kiblat sambil dilepas tali-talinya selain tali kepala dan kedua kaki.
·
Tidak
perlu meletakkan bantalan dari tanah ataupun batu di bawah kepalanya, sebab
tidak ada dalil shahih yang menyebutkannya. Dan tidak perlu menyingkap
wajahnya, kecuali bila si mayit meninggal dunia saat mengenakan kain ihram
sebagaimana yang telah dijelaskan.
·
Setelah
jenazah diletakkan di dalam rongga liang lahad dan tali-tali selain kepala dan
kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dengan batu bata atau
papan kayu/bambu dari atasnya (agak samping).
·
Lalu
sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dengan tanah liat agar menghalangi
sesuatu yang masuk sekaligus untuk menguatkannya.
·
Disunnahkan
bagi para pengiring untuk menabur tiga genggaman tanah ke dalam liang kubur
setelah jenazah diletakkan di dalamnya. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wassalam. Setelah itu ditumpahkan (diuruk) tanah ke atas
jenazah tersebut.
·
Hendaklah
meninggikan makam kira-kira sejengkal sebagai tanda agar tidak dilanggar
kehormatannya, dibuat gundukan seperti punuk unta, demikianlah bentuk makam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam (HR. Bukhari).
·
Kemudian
ditaburi dengan batu kerikil sebagai tanda sebuah makam dan diperciki air,
berdasarkan tuntunan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam (dalam masalah
ini terdapat riwayat-riwayat mursal yang shahih, silakan lihat “Irwa’ul Ghalil”
II/206). Lalu diletakkan batu pada makam bagian kepalanya agar mudah dikenali.
·
Haram
hukumnya menyemen dan membangun kuburan. Demikian pula menulisi batu nisan. Dan
diharamkan juga duduk di atas kuburan, menginjaknya serta bersandar padanya.
Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah melarang dari hal
tersebut. (HR. Muslim).
·
Kemudian
pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi si mayit (dalam menjawab pertanyaan
dua malaikat yang disebut dengan fitnah kubur). Karena ketika itu ruhnya
dikembalikan dan ia ditanya di dalam kuburnya. Maka disunnahkan agar setelah
selesai menguburkannya orang-orang itu berhenti sebentar untuk mendoakan
kebaikan bagi si mayit (dan doa ini tidak dilakukan secara berjamaah, tetapi
sendiri-sendiri!). Sesungguhnya mayit bisa mendapatkan manfaat dari doa mereka.
Wallahu
a’lam bish-shawab.
Berdasarkan
uraian mengenai tata cara pengurusan jenazah dapat diambil beberapa hikmah,
antara lain:
a.
Memperoleh
pahala yang besar.
b.
Menunjukkan
rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
c. Membantu meringankan beban kelurga
jenazah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
d. Mengingatkan dan menyadarkan manusia
bahwa setiap manusia akan mati dan masing-masing supaya mempersiapkan bekal
untuk hidup setelah mati.
e. Sebagai bukti bahwa manusia adalah
makhluk yang paling mulia, sehingga apabila salah seorang manusia meninggal
dihormati dan diurus dengan sebaik-baiknya menurut aturan Allah SWT dan
RasulNya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sepanjang uraian diatas dapat
diambil kesimpulan bahwasanya manusia sebagi makhluk yang mulia di sisi Allah
SWT dan untuk menghormati kemuliannya itu perlu mendapat perhatian khusus
dalam hal penyelenggaraan jenazahnya. Dimana, penyelengaraan jenazah seorang
muslim itu hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini dibebankan
kepada seluruh mukallaf di tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh
sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh mukallaf.
Adapun
4 perkara yang menjadi kewajiban itu ialah:
1.
Memandikan
2.
Mengkafani
3.
Menshalatkan
4. Menguburkan
Adapun hikmah yang dapat diambil
dari tata cara pengurusan jenazah, antara lain:
1.
Memperoleh
pahala yang besar.
2.
Menunjukkan
rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
3. Membantu meringankan beban kelurga
jenazah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
4. Mengingatkan dan menyadarkan manusia
bahwa setiap manusia akan mati dan masing-masing supaya mempersiapkan bekal
untuk hidup setelah mati.
5. Sebagai bukti bahwa manusia adalah
makhluk yang paling mulia, sehingga apabila salah seorang manusia meninggal
dihormati dan diurus dengan sebaik-baiknya menurut aturan Allah SWT dan
RasulNya.
B.
SARAN
Dengan adanya pembahasan tentang
tata cara pengurusan jenazah ini, pemakalah berharap kepada kita semua agar
selalu ingat akan kematian dan mempersiapkan diri untuk menyambut kematian itu.
Selain itu, pemakalah juga berharap agar pembahasan ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan kita semua serta dapat mengajarkannya dengan baik ketika telah
menjadi seorang guru di masa yang akan datang.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar